Jumat, 19 November 2010

KOPASSUS

Kopassus
SIAP --- SETIA--- BERANI
Lebih Baik Pulang Nama Daripada Gagal dalam Tugas

Kopassus - pasukan elit dengan baret merahnya…Mereka bukan orang sembarangan, dengan kemampuan dan keterampilan yang jauh di atas rata-rata tentara biasa; 1 orang prajurit Kopassus bernilai lebih dari 1 orang tentara biasa.



Kopassus adalah singkatan dari Komando Pasukan Khusus, satuan elit TNI AD yang mempunyai tugas khusus berupa penyerangan langsung ke sasaran/posisi musuh (direct action), perang inkonvensional, kontra terorisme dan operasi intelejen.

Sejarah

Bermula saat bertugas menumpas Pemberontakan RMS di Maluku tahun 1950, Letkol Slamet Riyadi melihat pasukan Pemberontak RMS dengan unit kecil yang efektif dapat memberikan perlawanan sengit dan menyebabkan banyak korban di pihak APRI ( TNI sekarang) kemudian beliau menyampaikan gagasan pembentukan pasukan istimewa dalam APRI kepada Kolonel A.E. Kawilarang. Unit kecil pasukan Pemberontak RMS yang efektif tadi adalah personil dari KST (Komando Stoot Troepen), Satuan elit Pasukan Belanda yang terkenal dengan baret hijaunya.

Namun sayang, Letkol Slamet Riyadi gugur dalam tugas penumpasan Pemberontakan RMS tersebut. Tapi gagasan pembentukan pasukan istimewa ini tetap berlanjut di tangan Kolonel A.E. Kawilarang.

Setelah operasi penumpasan Pemberontak RMS berakhir, Kolonel A.E. Kawilarang yang kemudian menjadi Panglima Teritorium Tentara III / Siliwangi merekrut beberapa anak buahnya yang mempunyai Brevet Para untuk memulai pendidikan pasukan istimewa ini bersama pelatih-pelatih dari SKI (Sekolah Kader Infanteri) Cimahi.

Salah seorang pelatihnya adalah Mayor Rokus Bernadus Visser, mantan tentara Belanda yang tinggal di Lembang dan telah berganti nama menjadi Mochammad Idjon Djanbi. Karena pengalamannya sebagai seorang prajurit Komando profesional, beliau diminta oleh Kolonel A.E. Kawilarang untuk membantu melatih calon pasukan istimewa ini.

Tahun 1952 diselenggarakanlah pelatihan Komando angkatan pertama di Batujajar. Tujuan pelatihan ini adalah membentuk prajurit-prajurit infanteri yang mempunyai kemampuan Komando. Pesertanya berasal dari dari prajurit Siliwangi, yaitu dari Batalyon 304/Pasopati Siliwangi, Batalyon 3 Mei dan beberapa peserta sukarela. Jumlah peserta adalah sekitar 400 orang. Pelatihan ini dilaksanakan selama 6 bulan dan yang berhasil lulus ada 242 orang.

Kemudian pada tanggal 16 April 1952 dibentuklah pasukan istimewa tadi dengan nama Kesatuan Komando Teritorium Tentara III/Siliwangi (Kesko TT. III/Siliwangi) dengan Mayor Infanteri Mochammad Idjon Djanbi sebagai komandannya.

Karena satuan Komando ini perlu didukung dengan fasilitas dan sarana yang lebih memadai dan operasional satuan ini diperlukan dalam lingkup yang lebih luas oleh Angkatan Darat, maka Kesko TT. III/Siliwangi beralih kedudukan langsung dibawah komando KSAD bukan dibawah Teritorium lagi dan pada bulan Januari tahun 1953 berganti nama menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD). Pada tanggal 29 September 1953 KSAD mengeluarkan Surat Keputusan tentang pengesahan pemakaian baret sebagai tutup kepala prajurit yang lulus pelatihan Komando.

Latihan lanjutan Komando dengan materi Pendaratan Laut (Latihan Selundup) baru bisa dilakukan pada tahun 1954 di Pantai Cilacap Jawa Tengah.

Pada tanggal 25 Juli 1955 KKAD berubah namanya menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Yang menjadi komandan adalah Mayor Mochammad Idjon Djanbi.

Untuk meningkatkan kemampuan prajuritnya, tahun 1956 RPKAD menyelenggarakan pelatihan penerjunan yang pertama kalinya di Bandung. Mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, maka Mayor Infanteri Mochammad Idjon Djanbi menginginkan agar prajurit RPKAD memiliki kemampuan sebagai peterjun sehingga dapat digerakkan ke medan operasi dengan menggunakan pesawat terbang dan diterjunkan di sana. Lulusan pelatihan ini meraih kualifikasi sebagai peterjun militer dan berhak menyadang Wing Para.

Tahun 1956, Mayor Infanteri Mochammad Idjon Djanbi mengajukan permohonan untuk berhenti dengan hormat dari dinas. Selanjutnya digantikan oleh Mayor Infanteri R.E. Djaelani.

Selanjutnya pada tahun 1959 kepanjangan RPKAD berganti menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat dan dilakukan pemisahan unsur tempur serta unsur pendidikannya. Unsur tempur dipindahkan ke Cijantung, Jakarta. Sedangkan unsur pendidikan Para Komando tetap berada di Batujajar, Bandung.

Perubahan nama terjadi lagi di tahun 1966, RPKAD menjadi Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat (Puspassus AD). Nama ini hanya bertahan lima tahun saja, tahun 1971 Puspassus AD berganti nama menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Dengan adanya pengembangan dan reorganisasi, tahun 1986 Kopassandha berubah nama menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sampai sekarang.


Organisasi

Saat ini Kopassus terdiri dari 5 Grup, yaitu:

• Grup 1/Parakomando, di Serang, Jawa Barat
• Grup 2/Parakomando, di Kartasura, Jawa Tengah
• Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) di Batujajar, Jawa Barat
• Grup 3/Sandhi Yudha di Cijantung, Jakarta
• Detasemen 81/Penanggulangan Teror (Gultor) di Cijantung, Jakarta

Struktur organisasi Kopassus tidak sama persis dengan satuan infanteri lainnya. Yaitu menggunakan istilah Grup. Kecuali Pusdikpassus yang berfungsi sebagai unsur pendidikan, 4 grup lainnya berfungsi sebagai unsur tempur. Masing-masing grup dibagi menjadi menjadi beberapa batalyon.

Karena Kopassus adalah Pasukan Khusus dan biasanya personil yang ditugaskan dalam suatu operasi lebih sedikit dari personil infanteri biasa maka Kopassus menggunakan istilah seperti Detasemen, Satuan Tugas Khusus, Tim dan Unit dalam struktur organisasinya agar lebih fleksibel dalam menentukan jumlah personilnya.

Komandan Kopassus disebut Komandan Jenderal (Danjen) dengan pangkat Mayor Jenderal. Komandan Grup berpangkat Kolonel, Komandan Batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Proses rekrutmen prajurit Sandi Yudha dan Detasemen-81 dimulai sejak seorang prajurit selesai mengikuti pendidikan Para dan Komando di Batujajar. Dari sini, mereka akan ditempatkan di satuan tempur Grup 1 dan Grup 2, baik untuk orientasi atau mendapatkan pengalaman operasi. Sekembalinya ke markas, prajurit tadi akan ditingkatkan kemampuannya untuk melihat kemungkinan promosi penugasan ke Satuan Sandi Yudha atau Satuan Anti Teror. Dan kembali menempuh pendidikan Sandi Yudha atau Anti Teror yang dilakukan di Pusdikpassus Batujajar.

Nama Detasemen-81 berasal dari tahun 1981, saat Satuan Anti Teror Kopassandha (waktu itu) berhasil dalam Operasi Pembebasan Sandera di pesawat DC-9 Garuda Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok – Thailand.



Pendidikan

Pendidikan bagi calon prajurit Kopassus dilakukan di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) di Batujajar, Jawa Barat. Pendidikan dasar berupa Komando dan Para Tempur, serta pendidikan lanjutan berupa Sandi Yudha dan Kontra Terorisme/Anti Teror.

Materi pendidikan Komando meliputi Perang Hutan (Jungle Warfare) dan Anti Gerilya, Buru Senyap, Daki Serbu, Menembak Tepat (Sniper), Survival yang dilakukan di daerah Situ Lembang dilanjutkan dengan long march ke Cilacap untuk latihan rawa laut, survival laut, menyelam dan pendaratan pantai.

Selain itu juga mereka harus menempuh pendidikan Para Tempur dengan materi yang meliputi terjun malam, terjun tempur bersenjata yang diterjunkan di hutan (dengan membawa senjata, ransel, payung utama dan payung cadangan), serta Combat Free Fall.

Standar yang dipakai di Kopassus dalam proses pendidikan amat sangat ketat, bagi calon yang fisiknya kurang mampu atau mentalnya lemah, jangan harap dapat bertahan didalam latihan ini, atau di dalam satuan ini. Kesalahan sekecil apaun tidak akan ditolerir, karena memang tugas yang mereka laksanakan sangat beresiko dan berbahaya.

Pendidikan selanjutnya bermaterikan Sandi Yudha, prajurit Kopassus yang lulus pendidikan ini mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan dan mengolah informasi intelejen di medan tempur/operasi. Tidak hanya itu, mereka juga mampu melakukan operasi penyamaran dan penyusupan ke garis belakang musuh untuk menghancurkannya, melakukan aktifitas kontra intelejen serta perang psikologi.

Sedangkan bagi calon anggota Detasemen-81/Satuan Anti Teror pada Kopassus TNI AD harus sudah mempunyai kemampuan kualifikasi :

• Intelejen (minimal intelejen tempur)
• Wing combat freefall / jump master dan mobil udara
• Kemampuan menembak pistol dan senapan minimal kelas 2
• Berenang dan menyelam
• Mempunyai kualifikasi tambahan dari korps asal (bagi non korps infanteri)

Jadi pendidikan di Pusdikpassus tidak hanya menghasilkan prajurit yang unggul fisik dan mental saja, tapi unggul juga dalam kecerdasan dan pengendalian emosi.




Perlengkapan

Kopassus dilengkapi dengan persenjataan dan perlengkapan penunjang yang modern, berteknologi tinggi dan mengutamakan keselamatan (safety first) seiring tugas yang mereka laksanakan sebagai pasukan khusus.

• Pistol : SIG-Sauer P226/P228, Berreta 92SB/92F, Browning HP, HK Mark23, Colt M1911, Walther PPK, Pindad P1/2,Glock 17, Glock 19, FN Five-Seven
• Submachine gun: MP5 variants, CZ-Scorpion, Uzi, Daewoo K-7, FN P90.
• Assault rifle: Pindad SS-1 variants, AK47, Steyr Aug A1/A2, M16A2, M4A1, H&K HK53, SIG 552, H&K G36C, Galil, Pindad SS-2, FAMAS.
• Shotgun: Franchi SPAS-12, Benelli M3T.
• Sniper Rifle: Pindad SPR, Sig-Sauer SG550, H&K MSG 90, H&K G3 Sniper, Galil Sniper, Remington 700, AI AW.
• Machine gun: FN Minimi, Ultimax 100, Daewoo K-3 LMG, and FN MAG
• Recoilless rifle : Armbrust, Carl Gustav recoilless rifle
• Water devices : Drager, Spero, Oxydive, Farallon, Landing Craft Rubber Boats
• GPS
Penugasan

Beberapa penugasan yang pernah dilakukan oleh Kopassus diantaranya adalah:

• Operasi Trikora. Tahun 1962
• Operasi Dwikora. Tahun 1964
• Operasi Seroja di Timor Timur. Tahun 1975-1983
• Operasi Pembebasan Sandera di pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok – Thailand. Tahun 1981
• Operasi Pembebasan Sandera di Mapenduma, Irian Jaya. Tahun 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar